Menjalin Kenangan Pelayanan, Pelsus GMIM Anthiokhia Cibubur Periode 2018-2022 Bertemu Kembali di Manado
Manado, Suluh Merdeka News – Waktu boleh berlalu, jarak boleh berpisah, namun kenangan dalam pelayanan tetap tersimpan erat di hati mereka yang pernah berjalan bersama dalam karya Tuhan. Suasana penuh kehangatan dan kegembiraan mewarnai pertemuan para Pelayan Khusus (Pelsus) GMIM Anthiokhia Cibubur periode 2018-2022 yang berlangsung di Kota Manado, 9 Juli 2026. Pertemuan tersebut mempertemukan mantan pelayan khusus, yakni Vivi Macarau, Mitha Takaedengan, James bersama keluarga, dengan Pendeta Dr. Djois A. Rantung, M.Th., yang pernah melayani jemaat GMIM Anthiokhia Cibubur. Meski telah beberapa tahun berpisah karena kesibukan dan tempat pelayanan yang berbeda, kebersamaan yang pernah terjalin seakan kembali hidup dalam pertemuan yang berlangsung akrab dan penuh kekeluargaan itu. Canda, tawa, dan cerita masa lalu mengalir tanpa henti. Setiap kenangan pelayanan yang pernah dilalui bersama menjadi bahan percakapan yang menghangatkan suasana. Mereka mengenang bagaimana perjuangan membangun pelayanan jemaat di tengah berbagai keterbatasan, sekaligus mengenang berbagai momen kebahagiaan yang pernah dialami bersama. Menurut Mitha, masa pelayanan di GMIM Anthiokhia Cibubur merupakan pengalaman yang sangat berharga dalam perjalanan imannya. Meski jumlah pelayan yang aktif saat itu tidak banyak, semangat untuk melayani tidak pernah surut. “Kami mungkin hanya beberapa orang yang benar-benar memberi diri dalam pelayanan saat itu, tetapi kami sangat bahagia dan penuh kegembiraan dalam mengabdi kepada Tuhan. Jarak antara Bogor dan Cibubur tidak pernah menjadi penghalang bagi kami untuk hadir dan menjalankan tugas pelayanan,” kenangnya. Ia menuturkan bahwa setiap ibadah, kegiatan jemaat, hingga berbagai program pelayanan selalu dilaksanakan dengan semangat kebersamaan. Bahkan perjalanan yang cukup jauh dari Bogor Cibubur tidak pernah dianggap sebagai beban, melainkan bagian dari pengorbanan yang dilakukan dengan kegembiraan. Hal senada diungkapkan Vivi Macarau yang pada masa itu menjabat sebagai Sekretaris BPMJ GMIM Anthiokhia Cibubur. Menurutnya, dinamika organisasi dan pelayanan merupakan sesuatu yang wajar terjadi dalam kehidupan bergereja. “Saat itu memang ada banyak persoalan dan riak-riak kecil dalam pelayanan. Namun semua itu tidak pernah menjadi penghalang untuk tetap melayani. Kami belajar untuk saling memahami, saling menopang, dan tetap menempatkan pelayanan sebagai prioritas utama,” ujarnya. Vivi mengakui bahwa setiap tantangan yang dihadapi justru menjadi sarana pembelajaran bagi para pelayan untuk semakin dewasa dalam iman dan pelayanan. Perbedaan pandangan yang muncul saat itu dapat diselesaikan melalui komunikasi dan semangat persaudaraan yang kuat. Sementara itu, Pendeta Dr. Djois A. Rantung, M.Th. menyampaikan rasa syukur atas kesempatan untuk kembali bertemu dengan rekan-rekan pelayanan yang pernah bersama-sama melayani di GMIM Anthiokhia Cibubur. Baginya, pertemuan tersebut bukan sekadar ajang melepas rindu,tetapi juga menjadi momentum untuk mensyukuri penyertaan Tuhan dalam perjalanan hidup dan pelayanan masing-masing. Menurutnya, pelayanan gereja tidak hanya berbicara mengenai program dan kegiatan, tetapi juga tentang membangun hubungan yang kuat di antara sesama pelayan. Hubungan yang dibangun di atas dasar kasih Kristus akan tetap bertahan meskipun waktu dan jarak terpisah. Dalam suasana penuh keakraban, mereka juga mengenang berbagai kegiatan jemaat yang pernah dilaksanakan, mulai dari ibadah kolom, perayaan hari-hari besar gerejawi, kegiatan kategorial, hingga pelayanan sosial yang melibatkan seluruh unsur jemaat. Berbagai cerita itu menghadirkan nostalgia yang mengingatkan mereka pada masa-masa penuh pengabdian kepada Tuhan dan jemaat. Bagi James, pertemuan tersebut menjadi bukti bahwa pelayanan yang dilakukan dengan ketulusan akan meninggalkan jejak persaudaraan yang tidak mudah pudar. Meski kini masing-masing telah berada di tempat dan kesibukan yang berbeda, ikatan sebagai sesama pelayan tetap terjalin erat. “Yang paling berkesan bukan hanya program yang pernah dilakukan, namun hubungan persaudaraan yang terbangun selama mengabdi bersama. Itu yang tetap kami rasakan hingga hari ini,” ungkapnya. Pertemuan sederhana itu akhirnya lebih dari sekedar reuni. Ia menjadi ruang untuk mengenang karya Tuhan dalam perjalanan pelayanan mereka sekaligus mempererat kembali tali persaudaraan yang telah terjalin selama bertahun-tahun. Di tengah perubahan zaman dan dinamika kehidupan yang terus bergerak, kisah kebersamaan para mantan Pelsus GMIM Anthiokhia Cibubur periode 2018-2022 menjadi pengingat bahwa pelayanan yang dilakukan dengan kasih dan ketulusan akan selalu meninggalkan kenangan indah. Kenangan itu bukan hanya tersimpan dalam ingatan, tetapi juga menjadi sumber kekuatan untuk terus melayani di mana pun Tuhan menempatkan mereka. Pertemuan di Manado itu pun diakhiri dengan doa bersama dan harapan agar tali persaudaraan yang telah dibangun dalam pelayanan tetap terpelihara. Sebab bagi mereka, pelayanan mungkin memiliki batas waktu, tetapi persaudaraan dalam Kristus akan terus hidup sepanjang masapertemuan tersebut menjadi bukti bahwa pelayanan yang dilakukan dengan ketulusan akan meninggalkan jejak persaudaraan yang tidak mudah pudar. Meski kini masing-masing telah berada di tempat dan kesibukan yang berbeda, ikatan sebagai sesama pelayan tetap terjalin erat. “Yang paling berkesan bukan hanya program yang pernah dilakukan, namun hubungan persaudaraan yang terbangun selama mengabdi bersama. Itu yang tetap kami rasakan hingga hari ini,” ungkapnya. Pertemuan sederhana itu akhirnya lebih dari sekedar reuni. Ia menjadi ruang untuk mengenang karya Tuhan dalam perjalanan pelayanan mereka sekaligus mempererat kembali tali persaudaraan yang telah terjalin selama bertahun-tahun. Di tengah perubahan zaman dan dinamika kehidupan yang terus bergerak, kisah kebersamaan para mantan Pelsus GMIM Anthiokhia Cibubur periode 2018-2022 menjadi pengingat bahwa pelayanan yang dilakukan dengan kasih dan ketulusan akan selalu meninggalkan kenangan indah. Kenangan itu bukan hanya tersimpan dalam ingatan, tetapi juga menjadi sumber kekuatan untuk terus melayani di mana pun Tuhan menempatkan mereka. Pertemuan di Manado itu pun diakhiri dengan doa bersama dan harapan agar tali persaudaraan yang telah dibangun dalam pelayanan tetap terpelihara. Sebab bagi mereka, pelayanan mungkin memiliki batas waktu, tetapi persaudaraan dalam Kristus akan terus hidup sepanjang masapertemuan tersebut menjadi bukti bahwa pelayanan yang dilakukan dengan ketulusan akan meninggalkan jejak persaudaraan yang tidak mudah pudar. Meski kini masing-masing telah berada di tempat dan kesibukan yang berbeda, ikatan sebagai sesama pelayan tetap terjalin erat. “Yang paling berkesan bukan hanya program yang pernah dilakukan, namun hubungan persaudaraan yang terbangun selama mengabdi bersama. Itu yang tetap kami rasakan hingga hari ini,” ungkapnya. Pertemuan sederhana itu akhirnya lebih dari sekedar reuni. Ia menjadi ruang untuk mengenang karya Tuhan dalam perjalanan pelayanan mereka sekaligus mempererat kembali tali persaudaraan yang telah terjalin selama bertahun-tahun. Di tengah perubahan zaman dan dinamika kehidupan yang terus bergerak, kisah kebersamaan para mantan Pelsus GMIM Anthiokhia Cibubur periode 2018-2022 menjadi pengingat bahwa pelayanan yang dilakukan dengan kasih dan ketulusan akan selalu meninggalkan kenangan indah. Kenangan itu bukan hanya tersimpan dalam ingatan, tetapi juga menjadi sumber kekuatan untuk terus melayani di mana pun Tuhan menempatkan mereka. Pertemuan di Manado itu pun diakhiri dengan doa bersama dan harapan agar tali persaudaraan yang telah dibangun dalam pelayanan tetap terpelihara. Sebab bagi mereka, pelayanan mungkin memiliki batas waktu, tetapi persaudaraan dalam Kristus akan terus hidup sepanjang masa