Mengabdi di Tapal Batas, Tim Karya Bakti UNSRAT Pulang Bawa Pengalaman dari Kepulauan Talaud

Terkini 08 Aug 2026 17:43 3 min read 157 views By James
Mengabdi di Tapal Batas, Tim Karya Bakti UNSRAT Pulang Bawa Pengalaman dari Kepulauan Talaud
MANADO — Suluh Mendeka News- Dua puluh dua hari bukan waktu yang singkat. Terhitung sejak 15 Juli hingga 6 Agustus 2026, dosen dan mahasiswa Uni...

MANADO — Suluh Mendeka News- Dua puluh dua hari bukan waktu yang singkat. Terhitung sejak 15 Juli hingga 6 Agustus 2026, dosen dan mahasiswa Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT) menjalankan Program Karya Bakti Skala Besar di Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara. Mereka hadir bukan sekadar menjalankan tugas akademik, tetapi membawa semangat pengabdian ke salah satu wilayah kepulauan terdepan Indonesia. Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan, rombongan akhirnya kembali ke Manado dan tiba pada Sabtu, 8 Agustus 2026. Seluruh peserta dilaporkan tiba dalam keadaan sehat. Ketua Tim Karya Bakti Skala Besar, Dr. Ir. Stanly O.B. Lombogia, S.Pt., M.Si., IPU, yang juga Dekan Fakultas Peternakan UNSRAT, menyampaikan rasa syukur atas selesainya seluruh kegiatan. “Puji syukur, kegiatan ini boleh selesai dengan baik. Seluruh peserta dapat kembali ke Manado dalam keadaan sehat,” ungkap Lombogia. Pernyataan tersebut menjadi penanda berakhirnya sebuah perjalanan pengabdian yang sarat tantangan. Berada di wilayah kepulauan membutuhkan kesiapan fisik, mental, maupun kemampuan beradaptasi dengan kondisi geografis dan sosial masyarakat setempat. Program Karya Bakti Skala Besar menjadi salah satu bentuk nyata keterlibatan perguruan tinggi dalam pembangunan daerah. Kehadiran dosen dan mahasiswa di Kepulauan Talaud sekaligus memperlihatkan bahwa kampus tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan dan penelitian, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial untuk hadir di tengah masyarakat. Selama berada di Talaud, tim melaksanakan berbagai kegiatan pengabdian yang diarahkan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat. Mahasiswa memperoleh pengalaman langsung mengenai kehidupan masyarakat di wilayah kepulauan dan perbatasan, sementara dosen menjalankan peran pendampingan sesuai kompetensi masing-masing. Bagi mahasiswa, pengalaman tersebut menjadi pembelajaran yang tidak sepenuhnya dapat diperoleh di ruang kuliah. Mereka berhadapan langsung dengan realitas masyarakat, kondisi wilayah, serta berbagai persoalan pembangunan di daerah kepulauan. Sementara bagi perguruan tinggi, kegiatan ini menjadi bagian penting dalam memperkuat implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dharma pengabdian kepada masyarakat. Kepulangan tim ke Manado juga menjadi momentum evaluasi. Selama 22 hari, berbagai pengalaman, tantangan, dan capaian yang diperoleh di lapangan dapat menjadi bahan penting untuk memperbaiki dan mengembangkan program pengabdian berikutnya. Lombogia menilai keberhasilan kegiatan tidak hanya diukur dari selesainya agenda, tetapi juga dari kemampuan seluruh anggota tim menjaga kebersamaan, disiplin, kesehatan, serta menyelesaikan tanggung jawab selama berada di daerah penugasan. “Yang paling penting, seluruh rangkaian kegiatan dapat dilaksanakan dan seluruh peserta kembali dalam keadaan sehat. Ini tentu menjadi kebahagiaan dan kesyukuran bagi kami,” katanya. Karya Bakti di Kepulauan Talaud akhirnya bukan sekadar catatan perjalanan selama 22 hari. Ia menjadi gambaran bagaimana perguruan tinggi dapat mengambil bagian dalam membangun Indonesia dari wilayah terdepan. Dari Manado, para dosen dan mahasiswa kembali membawa pengalaman dari Talaud—sebuah pengalaman bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak mengenal jarak, laut, maupun keterbatasan geografis. Justru di wilayah-wilayah terdepan seperti Kepulauan Talaud, kehadiran sumber daya manusia perguruan tinggi menjadi semakin penting untuk memperkuat pembangunan dan membuka ruang kolaborasi bagi masyarakat.