Renovasi Rumah Ibadah Masjid Raya Ahmad Yani Dipertanyakan
Manado, Berita Suluh Merdeka – Jatuhnya belasan keping keramik dari dinding bagian dalam Masjid Raya Ahmad Yani Manado tidak lagi sekedar menjadi kejadian teknis. Peristiwa yang terjadi pekan lalu itu kini berkembang menjadi perhatian publik dan memasuki ranah pengawasan legislatif. Di balik serpihan keramik yang jatuh, muncul pertanyaan besar mengenai kualitas pekerjaan meredupkan rumah ibadah yang menggunakan anggaran negara. Suasana Masjid Raya Ahmad Yani kembali dipenuhi jamaah saat salat Zuhur pada hari Kamis. Namun, rasa khusyuk sebagian jamaah masih dibayangi kekhawatiran. Bekas keramik yang terlepas di sisi selatan bangunan masih tampak menganga, meninggalkan jejak kerusakan yang mengingatkan jamaah akan potensi bahaya. Beberapa jamaah memilih tidak berada terlalu dekat dengan lokasi tersebut. Mereka berharap penyebab kejadian segera diketahui dan langkah perbaikan dilakukan secara menyeluruh sehingga rasa aman dapat kembali dirasakan oleh seluruh umat yang beribadah. Kekhawatiran masyarakat itu mendapat respon dari kalangan legislatif. Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara, Haji Amir Liputo SH, menegaskan bahwa persoalan tersebut akan menjadi perhatian serius DPRD. Saat dihubungi melalui sambungan telepon pada Kamis malam sekitar pukul 20.00 Wita, Amir Liputo mengatakan telah terjadi jadwal pemanggilan Satuan Kerja (Satker) Kementerian Pekerjaan Umum di Provinsi Sulawesi Utara pada minggu pertama Agustus mendatang. Menurutnya, rapat dengar pendapat atau dengar pendapat itu bertujuan meminta penjelasan resmi mengenai penyebab jatuhnya keramik di salah satu masjid terbesar di Sulawesi Utara tersebut. “Yang harus kita cari adalah logika. Secara teknis, merekalah yang paling memahami mengapa hal itu bisa terjadi,” ujar Amir. Politisi yang akrab disapa Aba Amir oleh masyarakat Manado itu mengingatkan bahwa kejadian serupa disebut bukan kali pertama terjadi. Oleh karena itu, evaluasi menyeluruh yang dinilai menjadi langkah yang tidak dapat ditunda. “Soalnya, peristiwa ini sudah yang kedua kalinya. Seharusnya pekerjaan di rumah ibadah benar-benar menjaga kualitas. Jangan asal jadi,” tegasnya. Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa DPRD tidak hanya ingin mengetahui penyebab teknis, tetapi juga memastikan apakah seluruh tahapan pekerjaan telah dilaksanakan sesuai spesifikasi, standar mutu, serta mekanisme pengawasan yang berlaku. Rumah ibadah, menurut Amir, bukan sekadar bangunan fisik, melainkan simbol kepercayaan masyarakat yang harus dibangun dengan penuh tanggung jawab. Oleh karena itu, setiap proyek yang direkomendasi wajib mengedepankan kualitas, keamanan, dan akuntabilitas. Di sisi lain, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Utara juga menyambut baik langkah DPRD untuk melakukan pengawasan. Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Utara, Dr. Ulyas Taha, M.Pd., melalui pesan WhatsApp menyampaikan rasa terima kasihnya karena masalah tersebut mendapat perhatian serius dari para wakil rakyat."Saya bersyukur persoalan jatuhnya keramik di Masjid Raya Ahmad Yani mendapat perhatian serius dari DPRD Sulut," tulisnya. Menurut Ulyas, forum sidang diharapkan menghadirkan Satker Kementerian PU beserta unsur pengawas lapangan agar seluruh proses pekerjaan dapat dijelaskan secara terbuka. “Dengan begitu semuanya menjadi jelas. Satker dan pengawas lapangan perlu dihadirkan dalam sidang bersama DPRD sehingga kita mengetahui penyebab sebenarnya,” katanya. Harapan tersebut sejalan dengan keinginan masyarakat agar tidak berkembang berbagai spekulasi yang justru menimbulkan keresahan. Penjelasan teknis yang disampaikan secara terbuka dinilai menjadi langkah penting untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat. Kejadian di Masjid Raya Ahmad Yani juga menjadi pengingat bahwa setiap proyek pemerintah, terutama yang berkaitan dengan fasilitas publik dan rumah ibadah, memerlukan pengawasan berlapis sejak tahap perencanaan, pelaksanaan hingga serah terima pekerjaan. Bagi masyarakat, permasalahan ini bukan semata-mata tentang keramik yang terlepas dari dinding. Yang disurvei adalah jaminan keamanan bangunan bagi ribuan jamaah yang setiap hari datang melaksanakan ibadah. Kini perhatian publik berkumpul pada agenda sidang DPRD Sulawesi Utara pada awal Agustus. Forum tersebut diharapkan mampu mengungkap penyebab kejadian secara objektif, apakah mempengaruhi faktor material, metode pemasangan, kualitas pekerjaan, pengawasan proyek, atau faktor teknis lainnya. Apa pun hasilnya nanti, masyarakat berharap evaluasi dilakukan secara menyeluruh. Jika ditemukan adanya pelanggaran atau pelanggaran terhadap standar pekerjaan konstruksi, maka setiap pihak yang bertanggung jawab perlu memberikan penjelasan dan komitmennya sesuai ketentuan yang berlaku. Pada akhirnya, Masjid Raya Ahmad Yani bukan hanya milik pemerintah atau pengelola, melainkan milik umat. Oleh karena itu, setiap proses pembangunan maupun rekonstruksinya harus mampu memberikan rasa aman, nyaman, dan menjadi contoh bahwa penggunaan anggaran publik benar-benar menghasilkan bangunan yang berkualitas dan dapat dipertanggungjawabkan.memerlukan pengawasan berlapis sejak tahap perencanaan, pelaksanaan hingga serah terima pekerjaan. Bagi masyarakat, permasalahan ini bukan semata-mata tentang keramik yang terlepas dari dinding. Yang disurvei adalah jaminan keamanan bangunan bagi ribuan jamaah yang setiap hari datang melaksanakan ibadah. Kini perhatian publik berkumpul pada agenda sidang DPRD Sulawesi Utara pada awal Agustus. Forum tersebut diharapkan mampu mengungkap penyebab kejadian secara objektif, apakah mempengaruhi faktor material, metode pemasangan, kualitas pekerjaan, pengawasan proyek, atau faktor teknis lainnya. Apa pun hasilnya nanti, masyarakat berharap evaluasi dilakukan secara menyeluruh. Jika ditemukan adanya pelanggaran atau pelanggaran terhadap standar pekerjaan konstruksi, maka setiap pihak yang bertanggung jawab perlu memberikan penjelasan dan komitmennya sesuai ketentuan yang berlaku.Pada akhirnya, Masjid Raya Ahmad Yani bukan hanya milik pemerintah atau pengelola, melainkan milik umat. Oleh karena itu, setiap proses pembangunan maupun rekonstruksinya harus mampu memberikan rasa aman, nyaman, dan menjadi contoh bahwa penggunaan anggaran publik benar-benar menghasilkan bangunan yang berkualitas dan dapat dipertanggungjawabkan.memerlukan pengawasan berlapis sejak tahap perencanaan, pelaksanaan hingga serah terima pekerjaan. Bagi masyarakat, permasalahan ini bukan semata-mata tentang keramik yang terlepas dari dinding. Yang disurvei adalah jaminan keamanan bangunan bagi ribuan jamaah yang setiap hari datang melaksanakan ibadah. Kini perhatian publik berkumpul pada agenda sidang DPRD Sulawesi Utara pada awal Agustus. Forum tersebut diharapkan mampu mengungkap penyebab kejadian secara objektif, apakah mempengaruhi faktor material, metode pemasangan, kualitas pekerjaan, pengawasan proyek, atau faktor teknis lainnya. Apa pun hasilnya nanti, masyarakat berharap evaluasi dilakukan secara menyeluruh. Jika ditemukan adanya pelanggaran atau pelanggaran terhadap standar pekerjaan konstruksi, maka setiap pihak yang bertanggung jawab perlu memberikan penjelasan dan komitmennya sesuai ketentuan yang berlaku. Pada akhirnya, Masjid Raya Ahmad Yani bukan hanya milik pemerintah atau pengelola, melainkan milik umat. Oleh karena itu, setiap proses pembangunan maupun rekonstruksinya harus mampu memberikan rasa aman, nyaman, dan menjadi contoh bahwa penggunaan anggaran publik benar-benar menghasilkan bangunan yang berkualitas dan dapat dipertanggungjawabkan.setiap proses pembangunan maupun rekonstruksinya harus mampu memberikan rasa aman, nyaman, dan menjadi contoh bahwa penggunaan anggaran publik benar-benar menghasilkan bangunan yang berkualitas dan dapat dipertanggungjawabkan.setiap proses pembangunan maupun rekonstruksinya harus mampu memberikan rasa aman, nyaman, dan menjadi contoh bahwa penggunaan anggaran publik benar-benar menghasilkan bangunan yang berkualitas dan dapat dipertanggungjawabkan.