Kurikulum Baru Peternakan Unsrat Dibidik Jadi Senjata Menuju Akreditasi Internasional
MANADO — Suluh Merdeka News - Fakultas Peternakan Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) mulai memperkuat fondasi akademiknya menuju panggung pendidikan tinggi berstandar internasional. Salah satu langkah strategi itu dilakukan melalui Forum Grup Diskusi (FGD) Pengembangan Kurikulum 2025 dan Perangkat Pembelajaran yang digelar di Ballroom Hotel Luwansa Manado, Jumat, 7 Agustus 2026. Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor I Unsrat Bidang Akademik, Prof. Dr. Ir. Arthur G. Pinaria, M.Sc. Kehadiran pimpinan universitas dalam forum tersebut menjadi penanda bahwa kurikulum bukan sekedar agenda fakultas internal, melainkan bagian penting dari strategi Unsrat meningkatkan mutu pendidikan dan mempersiapkan program studi menghadapi proses akreditasi internasional. Dalam berbagai hal, Pinaria menegaskan bahwa Fakultas Peternakan memiliki sumber daya manusia yang sangat mendukung untuk melakukan pengembangan kurikulum secara serius dan terarah. Menurutnya, kekuatan sumber daya manusia menjadi modal penting dalam membangun kurikulum yang mampu menjawab perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi serta kebutuhan dunia kerja. “Sumber daya manusia di Fakultas Peternakan Universitas Sam Ratulangi sangat mendukung pengembangan kurikulum dalam rangka akreditasi internasional,” kata Pinaria. Pernyataan tersebut sekaligus memberikan pesan bahwa keberhasilan akreditasi internasional tidak hanya ditentukan menuju oleh kelengkapan dokumen administratif. Lebih dari itu, kualitas pengajar, relevansi kurikulum, sistem pembelajaran, capaian pembelajaran lulusan hingga kompetensi kompetensi dengan kebutuhan pengguna lulusan menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu, FGD menjadi ruang penting untuk menguji kembali apakah kurikulum yang dikembangkan telah benar-benar mampu menjawab tantangan pendidikan peternakan masa kini. Dekan Fakultas Peternakan Unsrat, Dr.Ir. Stanly OB Lombogia, S.Pt., M.Si., IPM, berharap forum tersebut tidak berhenti pada diskusi, tetapi menghasilkan kajian yang komprehensif dan dapat diterapkan dalam proses pendidikan. Menurut Lombogia, kurikulum harus mampu menghasilkan lulusan yang memiliki daya saing serta kompetensi sesuai dengan kebutuhan industri dan perkembangan sektor peternakan saat ini. “Harapan kami, kegiatan ini dapat menghasilkan kajian yang komprehensif sehingga lulusan Fakultas Peternakan memiliki daya saing dan sesuai dengan kebutuhan industri yang dibutuhkan saat ini,” ujar Lombogia. Pernyataan tersebut menjadi semakin relevan di tengah perubahan kebutuhan dunia kerja. Industri peternakan tidak lagi hanya membutuhkan lulusan yang memahami aspek produksi ternak secara konvensional. Perkembangan teknologi, digitalisasi, manajemen usaha, keamanan pangan, efisiensi produksi, niat jahat lingkungan hingga kemampuan pelatihan menuntut perguruan tinggi menyiapkan kompetensi yang lebih luas. Dalam konteks itu,Pengembangan Kurikulum 2025 menjadi momentum untuk memastikan keterkaitan antara pembelajaran di ruang kuliah dengan kenyataan yang dihadapi dunia usaha dan industri. FGD tersebut melibatkan para guru besar serta sejumlah staf dosen dari berbagai bidang keilmuan di Fakultas Peternakan Unsrat. Mereka berasal dari Jurusan Produksi Ternak, Nutrisi Ternak dan Sosial Ekonomi, serta didukung staf administrasi. Keterlibatan berbagai elemen tersebut menampilkan bahwa penyusunan kurikulum memerlukan perspektif lintas bidang. Kurikulum yang kuat tidak hanya dibangun dari satu disiplin ilmu, tetapi harus mampu mengintegrasikan aspek produksi, nutrisi, sosial ekonomi, manajemen serta kebutuhan pembangunan peternakan. Salah satu sesi yang mendapat perhatian peserta adalah pemaparan Ketua Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pembelajaran (LP3) Unsrat, Dr. Ir. Max RJ Runtuwene, M.Si., yang menyampaikan materi mengenai sosialisasi Rencana Pembelajaran Semester (RPS). Materi tersebut mendapat respon positif dari peserta. Sejumlah dosen memanfaatkan forum untuk menyampaikan berbagai pertanyaan dan permasalahan yang selama ini mereka alami dalam penyusunan maupun penerapan RPS. Diskusi berlangsung cukup dinamis karena masalah perangkat pembelajaran tidak hanya berkaitan dengan format administrasi. RPS harus mampu menggambarkan hubungan yang jelas antara pencapaian pembelajaran, materi, metode pembelajaran, pengalaman belajar siswa, penilaian serta kompetensi yang ingin dicapai. Bagi Fakultas Peternakan Unsrat, pembenahan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun sistem pembelajaran yang lebih terukur dan terdokumentasi. FGD ini pada akhirnya bukan sekadar forum membahas dokumen kurikulum. Di balik agenda tersebut terdapat target yang lebih besar, yakni membangun sistem pendidikan peternakan yang mampu melahirkan lulusan kompetitif, adaptif dan relevan dengan kebutuhan zaman. Akreditasi internasional menjadi salah satu tujuan, tetapi kualitas lulusan tetap menjadi ukuran utama. Kurikulum yang baik pada akhirnya harus mampu menjawab satu pertanyaan mendasar: kompetensi apa yang benar-benar dibutuhkan siswa ketika mereka memasuki dunia kerja, industri, pemerintahan, penelitian maupun dunia kewirausahaan? Pertanyaan itulah yang kini menjadi pekerjaan bersama Fakultas Peternakan Unsrat. Dengan dukungan pimpinan universitas, kekuatan guru besar dan dosen, serta keterlibatan seluruh unsur akademik, pengembangan Kurikulum 2025 diharapkan tidak berhenti sebagai dokumen, tetapi menjadi instrumen perubahan yang membawa Fakultas Peternakan Unsrat semakin mendekati standar tinggi pendidikan internasional.Keterlibatan berbagai elemen tersebut menampilkan bahwa penyusunan kurikulum memerlukan perspektif lintas bidang. Kurikulum yang kuat tidak hanya dibangun dari satu disiplin ilmu, tetapi harus mampu mengintegrasikan aspek produksi, nutrisi, sosial ekonomi, manajemen serta kebutuhan pembangunan peternakan. Salah satu sesi yang mendapat perhatian peserta adalah pemaparan Ketua Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pembelajaran (LP3) Unsrat, Dr. Ir. Max RJ Runtuwene, M.Si., yang menyampaikan materi mengenai sosialisasi Rencana Pembelajaran Semester (RPS). Materi tersebut mendapat respon positif dari peserta. Sejumlah dosen memanfaatkan forum untuk menyampaikan berbagai pertanyaan dan permasalahan yang selama ini mereka alami dalam penyusunan maupun penerapan RPS. Diskusi berlangsung cukup dinamis karena masalah perangkat pembelajaran tidak hanya berkaitan dengan format administrasi. RPS harus mampu menggambarkan hubungan yang jelas antara pencapaian pembelajaran, materi, metode pembelajaran, pengalaman belajar siswa, penilaian serta kompetensi yang ingin dicapai. Bagi Fakultas Peternakan Unsrat, pembenahan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun sistem pembelajaran yang lebih terukur dan terdokumentasi. FGD ini pada akhirnya bukan sekadar forum membahas dokumen kurikulum. Di balik agenda tersebut terdapat target yang lebih besar, yakni membangun sistem pendidikan peternakan yang mampu melahirkan lulusan kompetitif, adaptif dan relevan dengan kebutuhan zaman. Akreditasi internasional menjadi salah satu tujuan, tetapi kualitas lulusan tetap menjadi ukuran utama. Kurikulum yang baik pada akhirnya harus mampu menjawab satu pertanyaan mendasar: kompetensi apa yang benar-benar dibutuhkan siswa ketika mereka memasuki dunia kerja, industri, pemerintahan, penelitian maupun dunia kewirausahaan? Pertanyaan itulah yang kini menjadi pekerjaan bersama Fakultas Peternakan Unsrat. Dengan dukungan pimpinan universitas, kekuatan guru besar dan dosen, serta keterlibatan seluruh unsur akademik, pengembangan Kurikulum 2025 diharapkan tidak berhenti sebagai dokumen, tetapi menjadi instrumen perubahan yang membawa Fakultas Peternakan Unsrat semakin mendekati standar tinggi pendidikan internasional.Keterlibatan berbagai elemen tersebut menampilkan bahwa penyusunan kurikulum memerlukan perspektif lintas bidang. Kurikulum yang kuat tidak hanya dibangun dari satu disiplin ilmu, tetapi harus mampu mengintegrasikan aspek produksi, nutrisi, sosial ekonomi, manajemen serta kebutuhan pembangunan peternakan. Salah satu sesi yang mendapat perhatian peserta adalah pemaparan Ketua Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pembelajaran (LP3) Unsrat, Dr. Ir. Max RJ Runtuwene, M.Si., yang menyampaikan materi mengenai sosialisasi Rencana Pembelajaran Semester (RPS). Materi tersebut mendapat respon positif dari peserta. Sejumlah dosen memanfaatkan forum untuk menyampaikan berbagai pertanyaan dan permasalahan yang selama ini mereka alami dalam penyusunan maupun penerapan RPS. Diskusi berlangsung cukup dinamis karena masalah perangkat pembelajaran tidak hanya berkaitan dengan format administrasi. RPS harus mampu menggambarkan hubungan yang jelas antara pencapaian pembelajaran, materi, metode pembelajaran, pengalaman belajar siswa, penilaian serta kompetensi yang ingin dicapai. Bagi Fakultas Peternakan Unsrat, pembenahan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun sistem pembelajaran yang lebih terukur dan terdokumentasi. FGD ini pada akhirnya bukan sekadar forum membahas dokumen kurikulum. Di balik agenda tersebut terdapat target yang lebih besar, yakni membangun sistem pendidikan peternakan yang mampu melahirkan lulusan kompetitif, adaptif dan relevan dengan kebutuhan zaman. Akreditasi internasional menjadi salah satu tujuan, tetapi kualitas lulusan tetap menjadi ukuran utama. Kurikulum yang baik pada akhirnya harus mampu menjawab satu pertanyaan mendasar: kompetensi apa yang benar-benar dibutuhkan siswa ketika mereka memasuki dunia kerja, industri, pemerintahan, penelitian maupun dunia kewirausahaan? Pertanyaan itulah yang kini menjadi pekerjaan bersama Fakultas Peternakan Unsrat. Dengan dukungan pimpinan universitas, kekuatan guru besar dan dosen, serta keterlibatan seluruh unsur akademik, pengembangan Kurikulum 2025 diharapkan tidak berhenti sebagai dokumen, tetapi menjadi instrumen perubahan yang membawa Fakultas Peternakan Unsrat semakin mendekati standar tinggi pendidikan internasional.Diskusi berlangsung cukup dinamis karena masalah perangkat pembelajaran tidak hanya berkaitan dengan format administrasi. RPS harus mampu menggambarkan hubungan yang jelas antara pencapaian pembelajaran, materi, metode pembelajaran, pengalaman belajar siswa, penilaian serta kompetensi yang ingin dicapai. Bagi Fakultas Peternakan Unsrat, pembenahan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun sistem pembelajaran yang lebih terukur dan terdokumentasi. FGD ini pada akhirnya bukan sekadar forum membahas dokumen kurikulum. Di balik agenda tersebut terdapat target yang lebih besar, yakni membangun sistem pendidikan peternakan yang mampu melahirkan lulusan kompetitif, adaptif dan relevan dengan kebutuhan zaman. Akreditasi internasional menjadi salah satu tujuan, tetapi kualitas lulusan tetap menjadi ukuran utama. Kurikulum yang baik pada akhirnya harus mampu menjawab satu pertanyaan mendasar: kompetensi apa yang benar-benar dibutuhkan siswa ketika mereka memasuki dunia kerja, industri, pemerintahan, penelitian maupun dunia kewirausahaan? Pertanyaan itulah yang kini menjadi pekerjaan bersama Fakultas Peternakan Unsrat. Dengan dukungan pimpinan universitas, kekuatan guru besar dan dosen, serta keterlibatan seluruh unsur akademik, pengembangan Kurikulum 2025 diharapkan tidak berhenti sebagai dokumen, tetapi menjadi instrumen perubahan yang membawa Fakultas Peternakan Unsrat semakin mendekati standar tinggi pendidikan internasional.Diskusi berlangsung cukup dinamis karena masalah perangkat pembelajaran tidak hanya berkaitan dengan format administrasi. RPS harus mampu menggambarkan hubungan yang jelas antara pencapaian pembelajaran, materi, metode pembelajaran, pengalaman belajar siswa, penilaian serta kompetensi yang ingin dicapai. Bagi Fakultas Peternakan Unsrat, pembenahan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun sistem pembelajaran yang lebih terukur dan terdokumentasi. FGD ini pada akhirnya bukan sekadar forum membahas dokumen kurikulum. Di balik agenda tersebut terdapat target yang lebih besar, yakni membangun sistem pendidikan peternakan yang mampu melahirkan lulusan kompetitif, adaptif dan relevan dengan kebutuhan zaman. Akreditasi internasional menjadi salah satu tujuan, tetapi kualitas lulusan tetap menjadi ukuran utama. Kurikulum yang baik pada akhirnya harus mampu menjawab satu pertanyaan mendasar: kompetensi apa yang benar-benar dibutuhkan siswa ketika mereka memasuki dunia kerja, industri, pemerintahan, penelitian maupun dunia kewirausahaan? Pertanyaan itulah yang kini menjadi pekerjaan bersama Fakultas Peternakan Unsrat. Dengan dukungan pimpinan universitas, kekuatan guru besar dan dosen, serta keterlibatan seluruh unsur akademik, pengembangan Kurikulum 2025 diharapkan tidak berhenti sebagai dokumen, tetapi menjadi instrumen perubahan yang membawa Fakultas Peternakan Unsrat semakin mendekati standar tinggi pendidikan internasional.