Saat Kakatua Jambul Kuning 'Bersuara' di Ruang Sidang: Skripsi Mahasiswa UNSRAT Menggugah Kesadaran Menyelamatkan Satwa Kritis
Manado – Suluh Merdeka News- Di tengah derasnya arus penelitian yang banyak berfokus pada produktivitas ternak dan teknologi peternakan, seorang mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT) justru memilih jalan yang berbeda. Ia membawa suara satwa liar yang populasinya terus menyusut ke ruang sidang akademik. Adalah Roger Satria Ponkorung, mahasiswa Fakultas Peternakan UNSRAT, yang mempertahankan skripsinya berjudul "Tingkah Laku Burung Kakatua Jambul Kuning (Cacatua sulphurea) di Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki" dalam ujian skripsi yang berlangsung pada Selasa, 28 Juli 2026, di ruang ujian Fakultas Peternakan UNSRAT. Penelitian tersebut bukan sekadar memenuhi syarat memperoleh gelar sarjana. Lebih dari itu, karya ilmiah tersebut menjadi bentuk kepedulian generasi muda terhadap salah satu satwa endemik Indonesia yang kini menghadapi ancaman serius akibat perdagangan ilegal, kerusakan habitat, dan rendahnya keberhasilan reproduksi di alam. Suasana ujian berlangsung dinamis. Berbagai pertanyaan kritis dilontarkan para dosen untuk menguji kedalaman analisis mahasiswa sekaligus menggali kontribusi penelitian terhadap upaya konservasi satwa langka. Mewakili Dekan Fakultas Peternakan UNSRAT, Dr. Ir. Erwin H. B. Sondakh, MP., IPU, selaku Wakil Dekan III memberikan apresiasi terhadap tema penelitian yang dinilai memiliki nilai strategis bagi pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk mendorong lahirnya penelitian yang tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga memberikan solusi terhadap persoalan nyata yang dihadapi bangsa, termasuk penyelamatan satwa liar yang populasinya semakin memprihatinkan. Pilihan Roger meneliti perilaku Kakatua Jambul Kuning (Cacatua sulphurea) dinilai sebagai langkah yang tepat. Burung ini dikenal sebagai salah satu spesies yang masuk dalam kategori sangat terancam punah akibat tekanan aktivitas manusia. Penelitian dilakukan di Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki, Sulawesi Utara, sebuah lembaga yang selama ini berperan dalam penyelamatan, rehabilitasi, dan pelepasliaran satwa liar hasil sitaan maupun penyerahan masyarakat. Selama penelitian, Roger mengamati berbagai bentuk perilaku harian burung, mulai dari aktivitas makan, bertengger, bergerak, berinteraksi dengan individu lain hingga respons terhadap lingkungan kandang rehabilitasi. Data perilaku tersebut menjadi indikator penting dalam menilai kesiapan satwa sebelum dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya. Tim pembimbing skripsi yang terdiri atas Dr. Ir. Josophine Louise Pinky Saerang, MP dan Dr. Ir. Lucia Johana Lambey, MP memberikan perhatian khusus terhadap proses rehabilitasi yang dijalankan di Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki. Keduanya mendorong mahasiswa agar mampu menjelaskan secara ilmiah hubungan antara perubahan perilaku satwa dengan tahapan rehabilitasi yang dilakukan. Menurut mereka, keberhasilan rehabilitasi tidak hanya diukur dari kondisi fisik satwa, tetapi juga dari kemampuan satwa menampilkan perilaku alami yang menjadi bekal penting ketika kembali ke habitat liar. Diskusi akademik semakin menarik ketika tim penguji memberikan berbagai masukan untuk memperkuat kualitas penelitian. Tim penguji terdiri atas Dr. Ir. James R. M. Keintjem, M.Si, Dr. Sylvia Laatung, S.Pt., M.Si, dan Dr. Ir. Joice J. I. Rompas, S.Pt., M.Si. Sementara Dr. Drs. Hapry Lapian, M.Sc selaku dosen pembimbing akademik turut memberikan berbagai saran dalam penyempurnaan karya ilmiah tersebut. Salah satu perhatian utama para penguji adalah ketepatan penggunaan istilah ilmiah, khususnya penulisan nama spesies sesuai kaidah nomenklatur internasional. Penulisan nama ilmiah yang benar menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas publikasi akademik sekaligus menunjukkan profesionalisme seorang peneliti. Selain aspek metodologi dan teknik penulisan, para penguji juga mengingatkan pentingnya memperluas pembahasan mengenai implikasi hasil penelitian terhadap strategi konservasi satwa liar di Indonesia. Ujian skripsi tersebut dipandu oleh panitia seminar Dr. Sjalom E. Sakul, S.Pt., M.Si., IPM, yang memastikan seluruh rangkaian sidang berlangsung sesuai ketentuan akademik. Sementara itu, Ketua Jurusan Produksi Ternak, Prof. Dr. Ir. Meity Sompie, M.Si., IPM., ASEAN Eng., menilai penelitian seperti ini menunjukkan bahwa ilmu peternakan memiliki ruang yang luas untuk berkontribusi dalam pelestarian satwa liar, tidak hanya berorientasi pada ternak produksi. Menurutnya, pengembangan ilmu peternakan modern harus mampu menjawab tantangan global, termasuk konservasi biodiversitas Indonesia yang merupakan salah satu kekayaan terbesar bangsa. Penelitian Roger menjadi bukti bahwa ruang-ruang akademik dapat menjadi tempat lahirnya gagasan besar bagi masa depan konservasi. Di balik lembaran skripsi dan presentasi ilmiah, tersimpan harapan agar semakin banyak generasi muda yang menjadikan penelitian sebagai bagian dari gerakan penyelamatan satwa langka. Kakatua Jambul Kuning bukan sekadar burung dengan bulu putih yang indah dan jambul berwarna kuning mencolok. Ia merupakan simbol kekayaan hayati Nusantara yang keberadaannya semakin terdesak. Ketika perilakunya dipelajari secara ilmiah, sesungguhnya yang sedang diperjuangkan bukan hanya masa depan satu spesies, melainkan juga keseimbangan ekosistem Indonesia. Melalui penelitian ini, Fakultas Peternakan Universitas Sam Ratulangi kembali menunjukkan bahwa kampus tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga melahirkan peneliti muda yang memiliki kepedulian terhadap persoalan lingkungan. Dari ruang ujian skripsi di Manado, lahir sebuah pesan kuat bahwa ilmu pengetahuan harus berpihak pada pelestarian kehidupan, karena menjaga satwa endemik berarti menjaga warisan alam Indonesia untuk generasi mendatang.