Mahasiswa KKT UNSRAT Menyatukan Keberagaman, Menunjukkan Jalan Baru bagi Pariwisata Indonesia
Bitung — Suluh Mendeka News- Sebuah papan penunjuk arah mungkin tampak sebagai benda sederhana. Namun, di Kelurahan Batu Putih Atas, Kecamatan Ranowulu, Kota Bitung, papan itu menjadi simbol perubahan. Bukan sekadar menunjukkan jalan menuju pantai atau kantor kelurahan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana gagasan mahasiswa mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Itulah yang dilakukan 13 mahasiswa Kuliah Kerja Terpadu (KKT) Angkatan 148 Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT). Setelah melakukan observasi lapangan sejak awal penempatan, mereka menetapkan sejumlah program prioritas yang lahir dari dialog bersama pemerintah kelurahan dan warga. Salah satu program yang langsung mendapat apresiasi adalah pembangunan penunjuk arah menuju berbagai lokasi penting, mulai dari kawasan wisata Pantai Kanada, pusat pemerintahan kelurahan, hingga akses menuju kawasan wisata alam yang terhubung dengan Cagar Alam Tangkoko. Lurah Batu Putih Atas, Iren Palamia, S.Pd., M.AP, menilai langkah tersebut merupakan solusi sederhana tetapi berdampak besar. "Program kerja mahasiswa KKT sangat membantu pemerintah Kelurahan Batu Putih Atas. Wisatawan yang datang ke Cagar Alam Tangkoko maupun ke lokasi wisata Pantai Kanada kini akan lebih mudah menemukan tujuan mereka. Ini merupakan bentuk kepedulian mahasiswa terhadap pelayanan publik sekaligus pengembangan pariwisata," ujar Palamia. Menurutnya, yang lebih membanggakan adalah kemampuan para mahasiswa beradaptasi dengan masyarakat lokal meski berasal dari latar belakang budaya yang sangat beragam. "Di posko ini ada mahasiswa dari berbagai daerah, termasuk dari Nias, Sumatera Utara, hingga Sulawesi Utara. Mereka sangat cepat menyatu dengan masyarakat yang mayoritas berasal dari Kepulauan Sangihe. Mereka bekerja tanpa sekat budaya," tambahnya. Keberagaman itu justru menjadi kekuatan. Ketua kelompok bersama seluruh anggota posko tidak hanya membangun program fisik, tetapi juga membangun hubungan sosial yang hangat dengan masyarakat. Mereka terdiri atas Dinda Claudia Br. Surbakti, Anielsry Dwiniart, Ester Natalia Purba, Jelita Christin Zefanya Puasa, Reymond Michael Makapele, Yosifiani Telaumbanua, Fania Aura Insani, Rizky Nandito Moniung Hamadi, Alfae Del Piero Tarumingi, Alda Potabuga, Eduard Riko Krisna Santoso, Alexandro Julio Tangkulung, dan Sefrianus Galang. Bagi mereka, KKT bukan sekadar memenuhi kewajiban akademik, melainkan belajar memahami kehidupan masyarakat secara langsung. Eduard Riko Krisna Santoso menjelaskan bahwa hasil observasi menunjukkan Batu Putih Atas memiliki potensi ekonomi yang sangat besar. "Kelurahan Batu Putih Atas memiliki kekuatan pada sektor pariwisata bahari, perikanan, serta pertanian dan perkebunan. Pantai Kanada memiliki panorama yang sangat indah dan berpotensi menjadi destinasi wisata unggulan baru di Kota Bitung. Selain itu wilayah ini sangat dekat dengan kawasan ekowisata Tangkoko yang sudah dikenal wisatawan dunia," jelasnya. Ia menambahkan bahwa sebagian besar masyarakat bekerja sebagai nelayan sehingga sektor kelautan menjadi penopang utama ekonomi keluarga. Sementara itu, komoditas perkebunan seperti kelapa, mangga, dan singkong menjadi sumber penghasilan tambahan yang memiliki peluang untuk dikembangkan melalui inovasi produk lokal. Mahasiswi Dinda Claudia Br. Surbakti mengaku terkesan dengan semangat gotong royong masyarakat. "Kami datang sebagai mahasiswa, tetapi masyarakat menerima kami seperti keluarga sendiri. Karena itu kami ingin memberikan sesuatu yang benar-benar dibutuhkan warga, bukan sekadar menjalankan program formal." Pendapat serupa disampaikan Yosifiani Telaumbanua. "Berada jauh dari kampung halaman justru membuat saya belajar bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Di Batu Putih Atas kami belajar menghargai adat, kebiasaan, dan cara hidup masyarakat pesisir." Reymond Michael Makapele mengatakan proses observasi menjadi pengalaman penting sebelum menyusun program kerja. "Kami tidak ingin datang membawa program yang sudah jadi. Kami ingin mendengar lebih dulu kebutuhan masyarakat sehingga setiap kegiatan benar-benar memberikan manfaat." Bagi Fania Aura Insani, pembangunan tidak selalu harus dimulai dari proyek besar. "Kadang hal sederhana seperti papan penunjuk arah justru memiliki manfaat luar biasa bagi wisatawan maupun masyarakat. Kami berharap ini menjadi awal dari pengembangan kawasan wisata yang lebih baik." Alexandro Julio Tangkulung menambahkan bahwa mahasiswa juga belajar pentingnya kolaborasi. "Kami melihat pemerintah kelurahan sangat terbuka terhadap ide-ide mahasiswa. Sinergi seperti ini penting agar pembangunan desa dapat berjalan lebih cepat." Di balik kesederhanaan program tersebut tersimpan makna yang lebih luas. Ketika Indonesia terus mendorong pengembangan destinasi wisata berkelanjutan, keterlibatan generasi muda menjadi modal sosial yang sangat berharga. Mahasiswa tidak hanya hadir sebagai peserta KKT, tetapi sebagai agen perubahan yang mampu menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat. Batu Putih Atas sendiri memiliki posisi strategis. Selain menjadi pintu menuju Cagar Alam Tangkoko yang terkenal dengan satwa endemik seperti tarsius, yaki, rangkong, dan berbagai jenis burung khas Sulawesi, wilayah ini juga menyimpan pesona Pantai Kanada yang mulai dikenal wisatawan karena keindahan pesisir dan suasana alamnya yang masih alami. Jika potensi tersebut terus didukung melalui penataan kawasan, promosi digital, peningkatan fasilitas, dan partisipasi masyarakat, Batu Putih Atas berpeluang menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Sulawesi Utara. Program sederhana yang digagas mahasiswa KKT Angkatan 148 UNSRAT menjadi bukti bahwa perubahan besar sering kali diawali dari langkah kecil. Sebuah papan penunjuk arah kini bukan hanya mengantar wisatawan menuju pantai atau kantor kelurahan, tetapi juga mengarahkan harapan baru bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat mampu melahirkan pembangunan yang inklusif, berkelanjutan, serta mengangkat nama Indonesia di mata dunia.