Menu Tempe ke Tangkoko: Kisah Mahasiswa KKT UNSRAT yang Menemukan Kehangatan Warga di Gerbang Surga Wisata Dunia
BITUNG – Berita Suluh Merdeka - Pekan pertama menjalani Kuliah Kerja Terpadu (KKT) bukanlah kisah mewah bagi 13 mahasiswa KKT Angkatan 148 Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT) yang ditempatkan di Kelurahan Batu Putih Bawah, Kecamatan Ranowulu, Kota Bitung. Di tengah semangat mengabdi kepada masyarakat, mereka harus memulai hari-hari pertama dengan menu sederhana: nasi dan lauk tempe. Namun, dari itulah lahirlah cerita tentang kepedulian, gotong royong, dan persaudaraan yang menjadi wajah Indonesia sesungguhnya. “Kami hanya makan dengan lauk tempe pada awal kedatangan karena belum memiliki informasi yang cukup mengenai kondisi di lokasi. Kami juga belum menyiapkan bekal bahan makanan sebagaimana yang direkomendasikan panitia KKT dan Koordinator Lapangan, dr. Woodford Barens S. Joseph, M.Sc.,” tutur Sintya Regina Badoa sambil tersenyum, yang langsung diamini rekan-rekannya. Pengalaman itu kini justru menjadi kenangan yang paling berkesan. Sebab, tidak lama kemudian, masyarakat Batu Putih Bawah menunjukkan kepedulian yang luar biasa. Warga datang membawa bantuan, mulai dari peralatan memasak hingga kebutuhan bahan makanan sehari-hari. Sambutan hangat itu juga datang dari Lurah Batu Putih Bawah, Alfret Huria, S.Sos, bersama seluruh perangkat kelurahan. “Kami sangat bersyukur. Perhatian masyarakat, Pak Lurah, dan perangkat kelurahan membuat kami merasa seperti berada di rumah sendiri,” ujar Sintya. Kehadiran mahasiswa KKT ternyata tidak hanya disambut secara administratif, tetapi juga secara kekeluargaan. Hubungan yang terjalin sejak hari pertama menjadi modal penting bagi keberhasilan berbagai program pemberdayaan masyarakat yang akan dilaksanakan selama masa pengabdian. Lebih dari sekadar tempat penugasan, Batu Putih Bawah merupakan salah satu gerbang menuju, kawasan konservasi yang dikenal hingga mancanegara karena kekayaan satwa endemiknya. Mahasiswa diajak langsung oleh pemerintah kelurahan untuk mengenal potensi daerah tersebut. Mereka melihat dari dekat habitat tarsius, primata terkecil di dunia, yaki atau monyet hitam Sulawesi, kuskus, hingga burung maleo yang selama ini menjadi objek penelitian para ilmuwan dari berbagai negara. Pengalaman itu membuka wawasan baru bagi para mahasiswa bahwa pengabdian masyarakat tidak hanya berbicara tentang pembangunan fisik, tetapi juga pelestarian lingkungan dan penguatan sektor pariwisata berbasis konservasi. Suasana Batu Putih Bawah bahkan dinilai memiliki karakter yang unik. “Situasinya mengingatkan kami pada Bali. Wisatawan hidup berdampingan dengan masyarakat. Mereka datang menikmati alam, sementara warga tetap menjalankan aktivitas sehari-hari dengan ramah,” ungkap salah seorang mahasiswa. Potensi inilah yang mendorong Posko KKT 148 Batu Putih Bawah merancang program unggulan berupa pembuatan Peta Desa Wisata. Koordinator Posko Allan Friendly Toar Warouw, didampingi Hendrik Piterson Samuel Wagiu dan Aurelia Abigail Deborah Rattu,menjelaskan bahwa peta tersebut akan ditempatkan di sejumlah titik strategis. “Kami ingin wisatawan memperoleh informasi yang mudah mengenai lokasi-lokasi penting, jalur wisata, fasilitas umum, serta potensi yang dimiliki Kelurahan Batu Putih Bawah. Kami berharap program ini dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat,” jelas Allan. Program tersebut dinilai sangat relevan mengingat kawasan Batu Putih Bawah menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan domestik maupun mancanegara yang ingin menikmati ekowisata Sulawesi Utara. Melalui peta informasi yang mudah dipahami, wisatawan yang berkunjung dapat menjelajahi kawasan secara lebih nyaman sekaligus meningkatkan lama kunjungan yang berdampak positif terhadap ekonomi masyarakat lokal. Semangat pengabdian mahasiswa UNSRAT di Batu Putih Bawah menunjukkan bahwa keberhasilan KKT tidak hanya diukur dari banyaknya program kerja yang selesai dilaksanakan, tetapi juga dari kemampuan membangun hubungan kemanusiaan dengan masyarakat. Kisah sederhana tentang makan dengan lauk tempe pada awal pengugasan justru menjadi simbol ketangguhan, adaptasi, dan kerendahan hati siswa ketika berada di tengah masyarakat. Kini, setelah merasakan hangatnya berbagai warga, para mahasiswa semakin optimis dapat memberikan kontribusi terbaik bagi Batu Putih Bawah melalui berbagai program yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat, promosi wisata, serta pelestarian lingkungan. Adapun mahasiswa KKT Angkatan 148 Posko Batu Putih Bawah terdiri atas: Sesylia Qwtzy Bertus, Naufal Fauzi Muslihin, Brilian Kapahang, Chrisaura Aurelia Maria Gratia Pakan, Aurelia Abigail Deborah Rattu, Juniar Aura Zahra Banto, Sintya Regina Badoa, Niken Tesalonika Kurnia, Febriano Mulya Raharja, Cantika J. Tambariki, Clayjansen Jermias Tumbelaka, Hendrik Piterson Samuel Wagiu, dan Allan Friendly Toar Warouw. Di tempat inilah para siswa belajar bahwa pengabdian tidak selalu dimulai dengan kemewahan. Kadang-kadang, sepiring nasi dan tempe menjadi awal dari lahirnya persahabatan, kepercayaan, dan harapan baru. Dari sebuah kelurahan kecil di kaki Tangkoko, mereka membuktikan bahwa nilai-nilai kemanusiaan adalah modal terbesar untuk membangun masa depan, sekaligus memperkenalkan wajah ramah Indonesia kepada dunia.Semangat pengabdian mahasiswa UNSRAT di Batu Putih Bawah menunjukkan bahwa keberhasilan KKT tidak hanya diukur dari banyaknya program kerja yang selesai dilaksanakan, tetapi juga dari kemampuan membangun hubungan kemanusiaan dengan masyarakat. Kisah sederhana tentang makan dengan lauk tempe pada awal pengugasan justru menjadi simbol ketangguhan, adaptasi, dan kerendahan hati siswa ketika berada di tengah masyarakat. Kini, setelah merasakan hangatnya berbagai warga, para mahasiswa semakin optimis dapat memberikan kontribusi terbaik bagi Batu Putih Bawah melalui berbagai program yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat, promosi wisata, serta pelestarian lingkungan. Adapun mahasiswa KKT Angkatan 148 Posko Batu Putih Bawah terdiri atas: Sesylia Qwtzy Bertus, Naufal Fauzi Muslihin, Brilian Kapahang, Chrisaura Aurelia Maria Gratia Pakan, Aurelia Abigail Deborah Rattu, Juniar Aura Zahra Banto, Sintya Regina Badoa, Niken Tesalonika Kurnia, Febriano Mulya Raharja, Cantika J. Tambariki, Clayjansen Jermias Tumbelaka, Hendrik Piterson Samuel Wagiu, dan Allan Friendly Toar Warouw. Di tempat inilah para siswa belajar bahwa pengabdian tidak selalu dimulai dengan kemewahan. Kadang-kadang, sepiring nasi dan tempe menjadi awal dari lahirnya persahabatan, kepercayaan, dan harapan baru. Dari sebuah kelurahan kecil di kaki Tangkoko, mereka membuktikan bahwa nilai-nilai kemanusiaan adalah modal terbesar untuk membangun masa depan, sekaligus memperkenalkan wajah ramah Indonesia kepada dunia.Semangat pengabdian mahasiswa UNSRAT di Batu Putih Bawah menunjukkan bahwa keberhasilan KKT tidak hanya diukur dari banyaknya program kerja yang selesai dilaksanakan, tetapi juga dari kemampuan membangun hubungan kemanusiaan dengan masyarakat. Kisah sederhana tentang makan dengan lauk tempe pada awal pengugasan justru menjadi simbol ketangguhan, adaptasi, dan kerendahan hati siswa ketika berada di tengah masyarakat. Kini, setelah merasakan hangatnya berbagai warga, para mahasiswa semakin optimis dapat memberikan kontribusi terbaik bagi Batu Putih Bawah melalui berbagai program yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat, promosi wisata, serta pelestarian lingkungan. Adapun mahasiswa KKT Angkatan 148 Posko Batu Putih Bawah terdiri atas: Sesylia Qwtzy Bertus, Naufal Fauzi Muslihin, Brilian Kapahang, Chrisaura Aurelia Maria Gratia Pakan, Aurelia Abigail Deborah Rattu, Juniar Aura Zahra Banto, Sintya Regina Badoa, Niken Tesalonika Kurnia, Febriano Mulya Raharja, Cantika J. Tambariki, Clayjansen Jermias Tumbelaka, Hendrik Piterson Samuel Wagiu, dan Allan Friendly Toar Warouw. Di tempat inilah para siswa belajar bahwa pengabdian tidak selalu dimulai dengan kemewahan. Kadang-kadang, sepiring nasi dan tempe menjadi awal dari lahirnya persahabatan, kepercayaan, dan harapan baru. Dari sebuah kelurahan kecil di kaki Tangkoko, mereka membuktikan bahwa nilai-nilai kemanusiaan adalah modal terbesar untuk membangun masa depan, sekaligus memperkenalkan wajah ramah Indonesia kepada dunia.