Renovasi Rp7,2 Miliar Dipertanyakan, Keramik Berjatuhan di Masjid Raya Ahmad Yani
Manado – Suluh Merdeka News - Rumah ibadah seharusnya menjadi tempat yang paling aman bagi umat untuk berdoa. Namun suasana di Masjid Raya Ahmad Yani Manado berubah menjadi kegelisahan setelah belasan keramik yang terpasang pada dinding bagian dalam masjid mendadak berjatuhan dari ketinggian sekitar 13 meter. Peristiwa yang terjadi pada Kamis sekitar pukul 10.00 WITA itu sontak mengundang perhatian jamaah dan masyarakat. Sedikitnya 17 lembar keramik dilaporkan terlepas dari dinding interior masjid. Beruntung, saat kejadian belum memasuki waktu salat sehingga tidak ada korban jiwa maupun luka. Namun, insiden tersebut meninggalkan satu pertanyaan besar: bagaimana mungkin bangunan yang baru direnovasi dengan anggaran miliaran rupiah mengalami kerusakan yang berpotensi membahayakan keselamatan jamaah? Renovasi Masjid Raya Ahmad Yani diketahui menghabiskan anggaran sekitar Rp7,2 miliar. Berdasarkan informasi yang diperoleh Suluh Merdeka News dari sejumlah sumber, proyek tersebut sebelumnya memiliki nilai sekitar Rp9 miliar sebelum dimenangkan melalui proses tender dengan nilai penawaran sekitar Rp7,2 miliar. Informasi mengenai mekanisme tender ini masih memerlukan konfirmasi kepada pihak berwenang. Yang lebih mengkhawatirkan, menurut sejumlah sumber di lingkungan masjid, peristiwa lepasnya keramik bukan terjadi untuk pertama kalinya. Mereka menyebut insiden serupa pernah terjadi sebelumnya. Jika benar demikian, maka persoalan tersebut tidak lagi dapat dianggap sebagai kejadian biasa, melainkan menjadi indikasi bahwa kualitas pekerjaan perlu dievaluasi secara menyeluruh. Usai Salat Jumat, sejumlah jamaah tampak memperhatikan area dinding tempat keramik terlepas. Sebagian mengaku waswas untuk berdiri atau salat di dekat dinding karena khawatir masih ada keramik lain yang berpotensi jatuh. "Kalau sudah dua kali terjadi, tentu kami menjadi takut. Ini rumah ibadah, tempat orang datang mencari ketenangan, bukan dihantui rasa khawatir," ujar salah seorang jamaah yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan. Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Keramik yang jatuh dari ketinggian sekitar 13 meter memiliki potensi menimbulkan cedera serius apabila mengenai jamaah. Fakta bahwa kejadian berlangsung sebelum waktu salat dinilai sebagai keberuntungan yang patut disyukuri. Dalam setiap proyek konstruksi pemerintah, aspek mutu, keselamatan, dan pengawasan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan. Kehadiran konsultan pengawas maupun pengawas lapangan bertujuan memastikan pekerjaan dilaksanakan sesuai spesifikasi teknis, mulai dari kualitas material hingga metode pemasangan. Karena itu, insiden ini memunculkan pertanyaan yang layak dijawab secara terbuka. Apakah material yang digunakan telah memenuhi standar? Apakah proses pemasangan sesuai spesifikasi teknis? Apakah telah dilakukan pemeriksaan sebelum pekerjaan dinyatakan selesai? Dan apakah masih terdapat potensi keramik lain yang dapat terlepas? Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting dijawab melalui investigasi teknis yang independen demi menghindari spekulasi sekaligus menjamin keselamatan masyarakat. Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara, H. Amir Liputo, SH, mengaku terkejut setelah mendengar informasi mengenai jatuhnya sejumlah keramik dari dinding masjid. "Wah, kok bisa ya?" ujarnya singkat saat dimintai tanggapan. Kepada Suluh Merdeka News, Amir Liputo menyatakan akan meminta penjelasan kepada kontraktor pelaksana maupun Satuan Kerja (Satker) Kementerian Pekerjaan Umum yang menangani proyek tersebut di Sulawesi Utara. "Kalau benar seperti itu, kami akan memanggil kontraktor dan Satker. Masa rumah ibadah dikerjakan seperti itu. Yang paling penting sekarang adalah memastikan keselamatan jamaah," katanya. Ia juga bersyukur karena insiden terjadi sebelum waktu salat. "Kalau kejadiannya saat salat berlangsung, risikonya bisa sangat besar. Syukur tidak ada korban. Tetapi ini harus menjadi perhatian serius agar tidak terulang," tegasnya. Sejumlah pihak berharap Kementerian Pekerjaan Umum segera melakukan audit teknis terhadap seluruh pekerjaan renovasi, khususnya pemasangan keramik pada bagian dinding interior yang memiliki ketinggian cukup ekstrem. Audit tersebut diharapkan dapat menjelaskan penyebab keramik terlepas sekaligus menentukan langkah perbaikan yang diperlukan. Selain itu, masyarakat juga menunggu adanya keterbukaan informasi mengenai hasil pemeriksaan sehingga kepercayaan publik terhadap proyek pemerintah dapat tetap terjaga. Suluh Merdeka News juga memperoleh informasi dari sumber lain yang menyebut kontraktor pelaksana proyek tersebut pernah dikenai Tuntutan Ganti Rugi (TGR) sebanyak dua kali. Namun informasi ini belum dapat diverifikasi secara independen kepada pihak kontraktor maupun instansi terkait, sehingga masih memerlukan konfirmasi resmi. Dalam prinsip jurnalisme yang berimbang, keterangan dari kontraktor pelaksana, Satker Kementerian Pekerjaan Umum, serta pihak pengawas proyek sangat diperlukan agar publik memperoleh gambaran yang utuh mengenai penyebab insiden tersebut. Peristiwa di Masjid Raya Ahmad Yani menjadi pengingat bahwa setiap rupiah uang negara yang digunakan untuk membangun fasilitas publik harus menghasilkan pekerjaan yang berkualitas, aman, dan dapat dipertanggungjawabkan. Terlebih ketika proyek tersebut menyangkut rumah ibadah yang setiap hari digunakan oleh masyarakat. Kini bola berada di tangan pihak-pihak yang bertanggung jawab. Publik menanti jawaban, bukan sekadar penjelasan administratif, tetapi bukti bahwa keselamatan jamaah menjadi prioritas utama. Sebab, renovasi sebuah masjid bukan hanya soal memperindah bangunan, melainkan juga menjaga amanah publik agar setiap orang dapat beribadah dengan rasa aman tanpa dihantui ancaman material bangunan yang sewaktu-waktu dapat berjatuhan.