Dari Batu Putih Atas untuk Dunia: Mahasiswa KKT Unsrat Hadirkan Inovasi Digital

Nyiur Melambai 27 Jul 2026 18:35 4 min read 29 views By James
Dari Batu Putih Atas untuk Dunia: Mahasiswa KKT Unsrat Hadirkan Inovasi Digital
Bitung –Suluh Merdeka News - Di balik rimbunnya hutan tropis yang menjadi rumah bagi tarsius, yaki, maleo, dan burung rangkong, lahir sebuah kol...

Bitung –Suluh Merdeka News - Di balik rimbunnya hutan tropis yang menjadi rumah bagi tarsius, yaki, maleo, dan burung rangkong, lahir sebuah kolaborasi yang mempertemukan semangat generasi muda dengan kebutuhan masyarakat. Kehadiran mahasiswa Kuliah Kerja Terpadu (KKT) Angkatan 148 Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) di Kelurahan Batu Putih Atas, Kota Bitung, tidak sekadar menjalankan kewajiban akademik. Mereka membawa gagasan yang lahir dari pengamatan lapangan dan diterjemahkan menjadi program nyata yang bermanfaat bagi warga sekaligus wisatawan. Kelurahan Batu Putih Atas merupakan salah satu pintu masuk menuju kawasan Cagar Alam Tangkoko, destinasi konservasi yang dikenal hingga mancanegara. Kawasan ini menjadi habitat alami tarsius, primata terkecil di dunia yang aktif pada malam hari, monyet hitam Sulawesi atau yaki (Macaca nigra), serta burung rangkong dan maleo yang termasuk satwa langka dan dilindungi. Potensi wisata yang besar tersebut ternyata masih menyisakan tantangan, terutama dalam penyediaan informasi bagi wisatawan. Banyak pengunjung yang belum mengetahui jalur menuju objek wisata maupun fasilitas pendukung di sekitar kawasan. Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKT Unsrat merancang program unggulan berupa pemasangan papan penunjuk arah yang dilengkapi peta digital. Melalui kode QR yang terpasang pada papan informasi, wisatawan dapat langsung mengakses peta menggunakan telepon pintar mereka. Langkah sederhana ini dinilai mampu meningkatkan kenyamanan pengunjung sekaligus memperkuat citra Batu Putih Atas sebagai desa wisata berbasis teknologi. Program tersebut bukan lahir dari ruang diskusi semata, tetapi melalui observasi langsung dan dialog bersama masyarakat. Pendekatan partisipatif ini menjadi kekuatan utama mahasiswa dalam menyusun program kerja yang benar-benar menjawab kebutuhan lapangan. Lurah Batu Putih Atas, Iren Palamia, S.Pd., M.AP., menyampaikan apresiasi atas dedikasi mahasiswa KKT Unsrat. Menurutnya, seluruh program yang dirancang memiliki manfaat nyata bagi masyarakat dan mendukung pengembangan potensi wisata daerah. "Mahasiswa tidak datang membawa program yang dipaksakan, tetapi terlebih dahulu melihat kondisi masyarakat, kemudian menyusun kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Ini yang kami harapkan," ujarnya. Ia menilai inovasi papan penunjuk arah berbasis peta digital merupakan langkah maju dalam mendukung promosi pariwisata sekaligus memberikan kemudahan bagi wisatawan domestik maupun mancanegara yang berkunjung ke kawasan Tangkoko. Lebih dari sekadar membangun fasilitas, mahasiswa juga menunjukkan kemampuan membangun hubungan sosial dengan masyarakat. Hal ini menjadi nilai tambah yang dirasakan pemerintah kelurahan. Sebagian besar warga Batu Putih Atas merupakan masyarakat keturunan Kepulauan Sangihe yang memiliki budaya kekeluargaan yang kuat. Meski demikian, mahasiswa dari berbagai daerah mampu beradaptasi dengan cepat. Bahkan, terdapat mahasiswa yang berasal dari Kepulauan Nias, Sumatera Utara, yang dapat berbaur tanpa hambatan dengan masyarakat setempat. Menurut Iren Palamia, keberagaman latar belakang mahasiswa justru memperkaya proses pembelajaran sosial selama pelaksanaan KKT. "Mereka mampu menghormati budaya lokal, berkomunikasi dengan baik, dan ikut terlibat dalam berbagai aktivitas masyarakat. Kehadiran mereka membawa suasana baru yang positif," katanya. Keberhasilan mahasiswa membangun komunikasi dengan masyarakat memperlihatkan bahwa KKT bukan hanya media pengabdian, tetapi juga ruang pembelajaran tentang keberagaman Indonesia. Batu Putih Atas menjadi miniatur persatuan ketika mahasiswa dari berbagai daerah bekerja bersama masyarakat demi tujuan yang sama. Program yang dijalankan mahasiswa juga selaras dengan arah pembangunan pariwisata berkelanjutan. Di tengah meningkatnya kunjungan wisata berbasis alam, penyediaan informasi digital menjadi kebutuhan penting. Wisatawan kini mengandalkan teknologi dalam menentukan rute perjalanan, mengenali lokasi penting, hingga memperoleh informasi mengenai objek wisata yang dikunjungi. Dengan hadirnya papan penunjuk arah yang terintegrasi dengan peta digital, Batu Putih Atas mulai memasuki era pelayanan wisata yang lebih modern tanpa meninggalkan karakter alam dan budaya yang menjadi daya tarik utamanya. Bagi Universitas Sam Ratulangi, keberhasilan mahasiswa di Batu Putih Atas menjadi gambaran bahwa pelaksanaan Kuliah Kerja Terpadu bukan sekadar memenuhi kewajiban kurikuler. Lebih jauh, KKT menjadi laboratorium sosial tempat mahasiswa mengimplementasikan ilmu pengetahuan, melatih kepemimpinan, membangun empati, sekaligus menghadirkan solusi bagi persoalan masyarakat. Di sisi lain, dukungan penuh dari pemerintah kelurahan menjadi faktor penting yang memperkuat keberhasilan program. Sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan perguruan tinggi menunjukkan bahwa pembangunan tidak selalu membutuhkan anggaran besar. Ide kreatif, kemauan bekerja sama, dan semangat melayani masyarakat sering kali menjadi modal yang jauh lebih berharga. Dari sebuah kelurahan di kaki Cagar Alam Tangkoko, mahasiswa KKT Unsrat Angkatan 148 membuktikan bahwa inovasi dapat lahir dari kedekatan dengan masyarakat. Ketika ilmu pengetahuan dipadukan dengan kepedulian sosial dan didukung pemerintah setempat, manfaatnya tidak hanya dirasakan warga, tetapi juga wisatawan yang datang menikmati kekayaan hayati Sulawesi Utara. Batu Putih Atas pun perlahan menegaskan diri sebagai gerbang wisata konservasi yang semakin ramah, informatif, dan siap menyambut dunia.