Rektor Utus Empat Dekan Pimpin Karya Bakti Skala Besar TA 2026 di Perbatasan Talaud Talaud
Melonguane, Suluh Merdeka News – Laut biru yang membentang di ufuk utara Sulawesi menjadi saksi dimulainya sebuah misi pengabdian yang membawa semangat persatuan, ilmu pengetahuan, dan kepedulian. Di Kabupaten Kepulauan Talaud, salah satu wilayah terdepan Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) menghadirkan wujud nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui Karya Bakti Skala Besar Tahun Anggaran 2026. Program yang akan berlangsung selama dua bulan itu resmi dicanangkan pada Rabu, 15 Juli 2026, di Melonguane oleh Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI (Purn.) Yulius Selvanus. Kegiatan tersebut turut dihadiri Pangdam XIII/Merdeka Mayor Jenderal TNI Mirza Agus, S.I.P., Danrem 131/Santiago, jajaran Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud, unsur TNI-Polri, tokoh masyarakat, serta sivitas akademika Universitas Sam Ratulangi. Karya Bakti Skala Besar TA 2026 bukan sekadar kegiatan pengabdian biasa. Program ini menjadi simbol kuat kolaborasi antara Universitas Sam Ratulangi, Kodam XIII/Merdeka, dan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud dalam membangun wilayah perbatasan yang memiliki arti strategis bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebagai bentuk komitmen penuh terhadap keberhasilan program tersebut, Rektor Universitas Sam Ratulangi menugaskan empat dekan untuk memimpin langsung misi pengabdian di lapangan. Mereka adalah Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Dr. Ferry Daud Liando, S.IP., M.Si., Dekan Fakultas Peternakan Dr. Ir. Stanly O. B. Lombogia, S.Pt., M.Si., Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Dr. Victor P. K. Lengkong, S.E., M.Si., serta Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Dr. Gerald H. Tamuntuan, S.Si., M.Si. Keempat dekan tersebut didukung oleh 17 Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) yang membina 50 mahasiswa terbaik dari berbagai fakultas di Unsrat. Para mahasiswa kemudian disebar di empat kecamatan wilayah perbatasan, yakni Esang, Rainis, Beo, dan Melonguane, untuk melaksanakan berbagai program pemberdayaan masyarakat sesuai bidang keilmuan masing-masing. Di daerah yang berbatasan langsung dengan negara lain, kehadiran mahasiswa bukan hanya membawa ilmu pengetahuan, tetapi juga semangat kebangsaan. Mereka akan hidup bersama masyarakat, mendengar kebutuhan warga, berbagi pengetahuan, serta menghadirkan solusi melalui pendidikan, kesehatan, ekonomi, lingkungan, teknologi, hingga pemberdayaan masyarakat desa. Dekan FISIP Universitas Sam Ratulangi, Dr. Ferry Daud Liando, S.IP., M.Si., yang mewakili Unsrat dalam seremoni pembukaan, menegaskan bahwa keterlibatan perguruan tinggi dalam program ini merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan akademik untuk ikut membangun Indonesia dari kawasan terluar. Menurutnya, pembangunan wilayah perbatasan tidak dapat dilakukan oleh satu institusi saja. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah, TNI, Polri, perguruan tinggi, dan masyarakat agar pembangunan berjalan berkelanjutan dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kehadiran Unsrat dalam Karya Bakti Skala Besar TA 2026 menjadi bukti bahwa dunia akademik mampu menjadi mitra strategis pemerintah dalam menyelesaikan berbagai persoalan pembangunan. Kolaborasi lintas sektor yang dibangun dalam kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan wilayah, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta mendorong tumbuhnya inovasi yang lahir dari kebutuhan masyarakat setempat. Bagi para mahasiswa, pengabdian di Talaud juga menjadi ruang pembelajaran yang sesungguhnya. Mereka belajar bahwa ilmu pengetahuan memperoleh makna ketika hadir di tengah masyarakat, menyentuh kehidupan warga, dan memberi manfaat nyata bagi pembangunan bangsa. Dari beranda utara Indonesia, Universitas Sam Ratulangi kembali menunjukkan jati dirinya sebagai kampus yang tidak hanya menghasilkan lulusan berkualitas, tetapi juga melahirkan insan-insan yang memiliki kepedulian sosial, jiwa nasionalisme, dan semangat mengabdi tanpa batas. Karya Bakti Skala Besar TA 2026 menjadi bukti bahwa membangun negeri tidak selalu dimulai dari pusat pemerintahan, tetapi juga dari pulau-pulau terdepan yang menjaga kedaulatan Indonesia. Di sanalah ilmu, pengabdian, dan semangat gotong royong berpadu menjadi kekuatan untuk mewujudkan masyarakat yang maju, mandiri, dan sejahtera. Bersinergi. Mengabdi. Membangun Negeri.