Liando : Melampaui Gelap, Menggapai Cahaya: Steven Kowaas, Penyandang Tunanetra yang Raih Gelar Magister Ilmu Pemerintahan Unsrat
MANADO –Suluh Merdeka News - Ada kalanya keterbatasan fisik dipandang sebagai penghalang untuk meraih cita-cita. Namun anggapan itu dipatahkan dengan cara yang begitu sederhana, tetapi sangat bermakna, oleh Steven Kowaas. Penyandang tunanetra ini membuktikan bahwa tekad, kerja keras, dan semangat belajar mampu mengalahkan segala keterbatasan. Senin, 20 Juli 2026, menjadi hari yang tak akan pernah dilupakan Steven. Di ruang ujian Program Studi Magister Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), ia berhasil mempertahankan tesisnya di hadapan para penguji. Keberhasilan itu mengantarkannya menyandang gelar Magister Ilmu Pemerintahan (M.I.P.), sebuah pencapaian yang lahir dari perjuangan panjang dan keteguhan hati. Prestasi Steven bukan hanya tentang memperoleh gelar akademik. Lebih dari itu, ia menjadi simbol bahwa kesempatan untuk meraih pendidikan tinggi adalah hak setiap warga negara, termasuk penyandang disabilitas. Di balik keterbatasan penglihatan, Steven memiliki pandangan yang begitu luas tentang masa depan, keadilan, dan pentingnya kesetaraan. Dalam studinya, Steven mengangkat tesis berjudul "Implementasi PKPU Nomor 12 Tahun 2024 dalam Pemenuhan Hak Aksesibilitas bagi Penyandang Disabilitas di Kecamatan Tikala Kota Manado pada Pilkada 2024." Tema tersebut bukan sekadar kajian akademik, tetapi juga lahir dari pengalaman hidupnya sebagai penyandang disabilitas yang memahami secara langsung berbagai tantangan dalam memperoleh hak-hak dasar, termasuk hak politik. Penelitian itu menggambarkan pentingnya penyelenggara pemilu menghadirkan aksesibilitas yang benar-benar ramah bagi penyandang disabilitas. Bagi Steven, demokrasi yang berkualitas tidak hanya diukur dari tingginya angka partisipasi pemilih, tetapi juga dari sejauh mana setiap warga negara memperoleh kesempatan yang sama untuk menggunakan hak pilihnya tanpa hambatan. Dalam menyusun tesisnya, Steven mendapat bimbingan langsung dari Dekan FISIP Unsrat, Dr. Ferry Daud Liando. Proses penyusunan karya ilmiah tersebut tentu tidak mudah. Berbagai referensi harus dipelajari dengan metode yang disesuaikan dengan kebutuhannya sebagai penyandang tunanetra. Namun semua tantangan itu dihadapi dengan kesabaran dan disiplin yang luar biasa. Ketika hari ujian tiba, Steven tampil penuh percaya diri. Ia mempresentasikan hasil penelitiannya di hadapan tim penguji yang terdiri atas Prof. Dr. Rino Rogi, Dr. Michael Mamentu, Dr. Buce Pati, dan Dr. Welly Waworundeng. Dengan argumentasi yang kuat dan penguasaan materi yang baik, ia mampu menjawab berbagai pertanyaan secara sistematis hingga akhirnya dinyatakan lulus. Keberhasilan itu langsung disambut hangat oleh para dosen dan rekan-rekan mahasiswa. Banyak yang memberikan apresiasi karena Steven tidak hanya berhasil menyelesaikan studi, tetapi juga menuntaskannya dalam waktu yang relatif singkat. Tercatat sebagai mahasiswa angkatan 2024, ia mampu menyelesaikan pendidikan magister dalam kurun waktu kurang dari dua tahun. Pencapaian tersebut menjadi semakin istimewa karena hingga saat ini masih banyak mahasiswa angkatan yang sama yang belum berhasil menuntaskan studinya. Fakta itu menunjukkan bahwa keberhasilan tidak ditentukan oleh kondisi fisik seseorang, melainkan oleh kemauan, kedisiplinan, dan konsistensi dalam menjalani proses belajar. Bagi banyak orang yang hadir menyaksikan ujian tesis tersebut, Steven telah memberikan pelajaran berharga tentang arti ketekunan. Ia membuktikan bahwa seseorang tidak perlu menunggu keadaan menjadi sempurna untuk mulai berjuang. Justru dari keterbatasan itulah lahir kekuatan yang mampu menginspirasi banyak orang. Kisah Steven juga menjadi cermin bagi dunia pendidikan tinggi. Kampus bukan hanya tempat mengejar nilai akademik, tetapi juga ruang untuk menghadirkan kesetaraan, menghargai keberagaman, dan membuka kesempatan bagi siapa saja yang memiliki semangat belajar. Kehadiran mahasiswa penyandang disabilitas menjadi pengingat bahwa pendidikan inklusif bukan sekadar slogan, melainkan sebuah komitmen yang harus diwujudkan. Lebih jauh lagi, tema penelitian yang dipilih Steven memberikan pesan penting kepada pemerintah, penyelenggara pemilu, dan masyarakat agar terus meningkatkan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas. Hak untuk memilih dan dipilih merupakan bagian dari hak konstitusional yang harus dijamin tanpa diskriminasi. Kini, nama Steven Kowaas, S.Sos., M.I.P. tercatat sebagai salah satu lulusan yang menghadirkan inspirasi di lingkungan Universitas Sam Ratulangi. Gelar yang diraihnya bukan hanya hasil dari kecerdasan akademik, tetapi juga buah dari keberanian menghadapi berbagai tantangan hidup yang tidak semua orang mampu jalani. Di balik senyum syukur yang terpancar usai dinyatakan lulus, tersimpan pesan sederhana namun mendalam: keterbatasan bukanlah akhir dari mimpi. Selama masih ada keyakinan, kerja keras, dan doa, selalu ada jalan menuju keberhasilan. Steven Kowaas telah membuktikannya. Ia tidak hanya menorehkan prestasi untuk dirinya sendiri, tetapi juga menyalakan harapan bagi ribuan penyandang disabilitas di Indonesia bahwa mereka mampu berdiri sejajar, berkarya, dan memberikan kontribusi nyata bagi bangsa melalui ilmu pengetahuan dan pengabdian kepada masyarakat.